KUMPULAN MATERI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING



TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING


Hasil gambar untuk gambar TI DALAM BK


A.   Urgensi Teknologi Informasi Dalam Bimbingan dan Konseling
Semakin maju dan berkembangnya zaman, seluruh aspek kehidupan pun menyesuaikan dengan kemajuan tersebut agar tidak out of date atau ketinggalan dalam mengikuti perkembangan zaman (Yusron, 2010). Globalisasi ini akan berdampak pada kebutuhan manusia yang juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman, di mana dunia sudah tak ada lagi batasan dan semua serba dilakukan secara instan dan efisien. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi saling berkaitan terhadap bidang informasi, sehingga informasi atau pengetahuan yang akan menciptakan gagasan teknologi serta sebaliknya, teknologi juga akan mempermudah akses informasi dan ilmu pengetahuan. Ketika akses informasi tersebut semakin mudah, maka hal ini berdampak kepada globalisasi tersebut serta kemajuan teknologi yang semakin mutakhir dengan perkembangan, kemajuan dan kedinamisan yang sangat cepat (Yusron, 2010).

Kemajuan yang semakin mutakhir dan semakin mengefisienkan konsumen pengguna teknologi, akan menjadi suatu daya tarik yang kuat untuk mengaplikasikannya dalam wilayah pendidikan (Yusron, 2010). Hal tersebut dikarenakan kebutuhan pendidikan yang semakin hari semakin dituntut untuk bergerak atau berkembang lebih cepat demi mengejar kemajuan era yang semakin mutakhir dan sangat cepat. Oleh karena itu, penerapan teknologi informasi di wilayah aspek pendidikan akan menjadi suatu  tersendiri dalam menyelaraskan dengan kemajuan zaman yang semakin mutakhir.

Bimbingan dan konseling merupakan “proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal” (Kartadinata dalam Yusuf, 2010: 6). Pada intinya bimbingan dan konseling merupakan suatu upaya bantuan terhadap individu untuk membantu mengoptimalkan perkembangan dalam kehidupannya serta membimbing individu agar mengetahui atau mengerti dirinya sendiri, mengarahkan, merealisasi, mengembangkan potensi, serta mengaktualisasi dirinya sendiri dan juga melalui tugas perkembangannya dengan baik.

Bimbingan dan konseling dalam pendidikan formal merupakan salah satu sarana pendukung untuk peserta didik optimal dalam memecahkan masalah serta mengembangkan potensi dirinya. Bimbingan dan konseling dalam pendidikan formal senantiasa menyelaraskan dengan perkembangan pendidikan yang juga selaras dengan perkembangan zaman (Kartadinata dalam Yusron, 2010). Oleh karena itu, bimbingan konseling juga memerlukan suatu penyesuaian dengan kemajuan, yaitu dengan penerapan aplikasi Teknologi Informasi.

alat atau media komunikasi serta informasi elektronik baik secara online maupun offline (Yusron, 2010). Penggunaan media teknologi yang mutakhir akan senantiasa merubah gaya serta penerapan bimbingan dan konseling yang konvensional. Sebagaimana tujuan dari kemajuan teknologi yaitu untuk mengefisienkan atau mempermudah akses informasi, maka penerapannya dalam bimbingan dan konseling juga mengacu pada cara yang sama tanpa mengubah konteks dari bimbingan dan konseling tersebut.

Alat-alat atau media dalam akses informasi di era global ini sangat beragam dan mutakhir, seperti telepon selular, komputer, internet dan media lainnya yang langsung atau online ataupun yang tidak langsung atau offline. Maka semua media teknologi informasi tersebut akan mempermudah akses pemberian bantuan terhadap individu jika dimanfaatkan secara tepat guna dan terlatih. Oleh karena itu, profesional di bidang bimbingan dan konseling yang selanjutnya disebut dengan konselor, dituntut untuk dapat menggunakan serta terlatih dalam penggunaan dan penerapan konseling melalui media teknologi.

Sebagaimana upaya bimbingan dan konseling yaitu memfasilitasi konseli, maka penggunaan teknologi informasi atau media elektronik penunjang proses konseling akan sangat dibutuhkan agar konseli dapat memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling secara efisien serta tidak terkesan ketinggalan zaman. Jika layanan bimbingan konseling masih menerapkan cara-cara konvensional dalam era teknologi yang semakin maju, maka layanan tersebut akan ditinggalkan oleh konseli yang akan mengakibatkan degradasi moral serta ketidakmampuan konseli dalam memecahkan serta mengoptimalkan tugas perkembangan yang harus dilaluinya secara mandiri (Yusron, 2010). Maka jika hal tersebut terjadi, akan banyak individu yang mengalami kesulitan dalam pemahaman diri dan akan cenderung masuk ke dalam zona kebebasan yang kebablasan tanpa adanya bimbingan yang bersifat mengembangkan kepribadian yang sehat.

Maka dari hal tersebut, penerapan atau pemanfaatan teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling menjadi suatu urgensi tersendiri dalam penyesuaian kondisi zaman atau era yang sangat global. Salah satu yang menjadi pertimbangan perlunya bimbingan dan konseling menyesuaikan terhadap era yang global serta serba teknologi tersebut, yaitu pertimbangan dampak dari era globalisasi itu sendiri. Seperti diketahui, bahwa kemajuan teknologi informasi yang tidak dimanfaatkan secara tepat akan memicu timbulnya dampak negatif dari penggunaan teknologi informasi tersebut. Maraknya penyalahgunaan teknologi informasi salah satunya internet yaitu beredarnya pornografi yang tanpa batas atau tayangan tayangan kekerasan yang tidak pantas untuk disaksikan terutama oleh para remaja dan anak-anak. Ketika hal tersebut kian marak oleh karena terlalu bebasnya akses informasi tanpa ada bimbingan, maka akan merusak generasi muda juga akan muncul degradasi mental remaja dari dampak tersebut. Oleh karena itu, dalam hal inilah bimbingan dan konseling berperan sebagai pembimbing untuk mencegah hal tersebut. Tindakan preventif melalui kegiatan bimbingan dan konseling terhadap para remaja dalam hal penyalahgunaan teknologi informasi, akan menjadi suatu batasan internal terhadap remaja menghadapi kebebasan tanpa batas di dunia maya. Maka dari itulah layanan bimbingan dan konseling yang menyesuaikan dengan kondisi zaman yang mutakhir dan global, menjadi sangat penting dan diperlukan dalam membangun kualitas kehidupan generasi muda yang terhindar dari dampak negatif arus informasi yang tak berbatas (Yusron, 2010).

Perkembangan TIK menghadirkan tantangan baru bagi praktisi bimbingan dan konseling. TIK lebih cenderung pada eksploitasi peran dan fungsi dari teknologi komputer. Berbicara TIK berarti berbicara komputer, baik pemanfaatannya, peran, dan fungsinya dalam kehidupan. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya relevansi yang harus dilakukan oleh para orang dalam bimbingan dan konseling untuk menjawab tantangan ini (Yusron, 2010). Keterampilan konselor bimbingan dan konseling dalam menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, merupakan salah satu wujud profesionalitas kerja konselor dalam pelaksanaan program layanan (Yusron, 2010).

Teknologi informasi memiliki beberapa fungsi dan peranan dalam bimbingan dan konseling (Yusron, 2010), yaitu:
1.     Publikasi
 TI dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan kepada masyarakat luas dan juga sebagai pemberi informasi mengenai BK.

2.     Pelayanan dan Bantuan
bimbingan dan konseling dilakukan secara tidak langsung dengan bantuan teknologi informasi.

3.       Pendidikan
 di dalam informasi yang diberikan melalui sarana TI mengandung unsur pedidikan.

Penggunaan TI, khususnya komputer kini sudah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga ke sekolah lanjutan atas dan sekolah kejuruan. Namun demikian, yang paling besar pengaruhnya adalah di Perguruan Tinggi, di mana hampir semua Perguruan Tinggi di Indonesia sudah memanfaatkan teknologi ini dalam perkuliahannya, baik melalui tatap muka maupun secara online. Sebagai contoh: seorang dosen dalam menyampaikan materinya tidak hanya mengandalkan media konvensional saja, melainkan sudah menggunakan unsur teknologi di dalamnya. Biasanya seorang dosen atau guru di PT tertentu dalam menyampaikan materi kuliah ditampilkan dalam bentuk slide presentasi dengan bantuan komputer. Dengan teknologi ini, mahasiswa atau siswa bisa mengikuti mata kuliah dengan baik, karena materi yang disampaikan selain mengandung materi yang berbobot juga mengandung unsur multimedia yang bisa menghibur.

Dengan teknologi jaringan, tidak hanya mata kuliah atau bidang studi saja yang bisa memanfaatkan teknologi tinggi ini, melainkan hampir sebagian besar proses belajar mengajar termasuk BK sudah bisa memanfaatkannya.Data-data yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal (Pearson, dalam Wahid, 2010). Data atau informasi yang didapat melalui internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas tinggi. Hal ini sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca oleh semua orang di muka bumi. Sehingga kecil kemungkinan jika data yang dimasukkan berupa data-data sampah (Surya, 2010).

B.   FUNGSI DAN PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BIMBINGAN KONSELING

1.     Fungsi Teknologi Informasi dalam Bimbingan Konseling
Teknologi informasi dalam bimbingan konseling memiliki beberapa fungsi, terutama komputer dan internet. Diantaranya:

a.     Mempermudah konselor dalam menyusun, mencari dan juga mengolah data.
b.     Menjaga kerahasiaan suatu data, karena dengan teknologi memungkinkan untuk menguncinya dan tidak sembarang orang dapat mengaksesnya.
c.      Membantu individu maupun kelompok untuk dapat berkomunikasi dengan lebih mudah dan relatif murah dalam pelaksanaan konseling.
d.      Memberikan kesempatan kepada individu untuk berkomunikasi lebih baik dengan menggunakan informasi yang mereka terima tanpa perlu bertemu secara fisik.
e.      Menjadikan teknologi informasi sebagai alat dalam suatu program kegiatan, sehingga kegiatan tersebut lebih teratur dan terstruktur.

2.     Peranan Teknologi Informasi dalam Bimbingan Konseling
Aplikasi teknologi informasi dalam bimbingan konseling adalah memberikan informasi kepada klien tentang apa yang dibutuhkannya. Selain itu, sarana yang diberikan oleh teknologi informasi itu sendiri,  memungkinkan antar pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok lainnya dapat bertukar pikiran. Teknologi informasi pun dapat meningkatkan kinerja dan memungnkinkan berbagai kegiatan untuk dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja konselor itu sendiri.

Sebagai salah satu profesi yang memberikan layanan sosial atau layanan kemanusiaan maka secara sadar atau tidak keberadaan profesi bimbingan konseling berhadapan dengan perubahan realitas baik yang menyangkut perubahan-perubahan pemikiran, persepsi, demikian juga nilai-nilai. Perubahan yang terus menerus terjadi dalam kehidupan, mendorong konselor perlu mengembangkan pemahaman, dan penerapannya dalam perilaku serta keinginan untuk belajar, dengan diikuti kemampuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan yang serupa. Layanan Bimbingan dan Konseling menjadi sangat penting karena langsung berhubungan langsung dengan siswa. Hubungan ini tentunya akan semakin berkembang pada hubungan siswa dengan siswa lain, guru dan karyawan, orang tua / keluarga, dan teman-teman lain di rumah. Selanjutnya bagaimana pengaruhnya dengan pembelajarannya di sekolah, sosialisasi dengan teman, saudara baik di sekolah dan di rumah. Dan tentu saja dengan prestasinya di bidang akademik dan non akademik.

Dukungan layanan ini dapat diperoleh dari tersedianya data yang akurat yang sepertinya untuk saat ini sangat tepat apabila data tersebut didapatkan dari system komputasi. Agar bisa bertahan dan diterima oleh masyarakat, maka bimbingan dan konseling harus dapat disajikan dalam bentuk yang efisien dan efektif yatiu dengan menggunakan ICT atau dengan kata lain harus melibatkan teknologi informasi, khususnya teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling.

Penggunaan ICT dalam konseling mengarah pada pengembangan media konseling. Selain dapat dilakukan melalui tatap muka, konseling dapat dilakukan secara jarak jauh. Beberapa diantaranya sebagai berikut.
a.     Konseling melalui telepon
b.     Konseling berbantuan komputer
c.       Konseling melalui internet

C.   ISU ETIK DAN LEGAL TI DALAM PELAYANAN BK
Isu merupakan suatu persoalan yang terjadi. Etik merupakan suatu tatanan susila yang ada pada masyarakat atau kelompok. Legal merupakan sesuatu yang disahkan oleh aturan atau konstitusi yang ada atau sesuai dengan aturan. Teknologi Informasi merupakan suatu media yang sedang berkembang saat ini dan dapat memudahkan manusia dalam melakukan sesuatu. Pelayanan merupakan suatu bentuk melayani seseorang dari orang yang ahli. Bimbingan dan Konseling merupakan suatu proses bantuan dari konselor untuk konseli yang dilakukan secara bertahap atau sistematis agar konseli dapat berkembang secara optimal.

Etika dalam menjalankan suatu tugas profesi merupakan hal yang essensial karena menyangkut prestise dari profesi tersebut. Kode etik yang biasa terdapat pada suatu profesi termaksud profesi konselor. Kode etik ini dapat melindungi kinerja konselor agar tidak melenceng dari tugas yang seharusnya. Kode etik pula dapat membantu konseli untuk mendapatkan layanan yang efektif karena kinerja konselor diarahkan untuk memberikan layanan sesuai kode etik profesinya. Kode etik profesi konselor merupakan aturan atau pedoman atau pegangan atau tata cara pelayanan BK yang ditujukan untuk seorang yang ahli dalam profesi (konselor) dari suatu organisasi profesi atau lembaga atau pemerintah agar konselor mencapai standarisasi profesionalitas profesinya.

Kode etik dapat menjadi penunjuk arah kinerja konselor bahkan dapat juga menjadi bumerang bagi konselor gadungan. Kode etik bukanlah hal yang dapat dipermainkan karena ini menyangkut tanggung jawab konselor dan menyangkut kenyamanan konseli bagi pelayanan BK yang diberikan. Jika konseli sudah tidak membutuhkan tenaga profesi BK dikarenakan pelayanan yang diberikan merugikan konseli maka profesi ini akan gulung tikar. Kode etik konselor harus menjunjung tinggi dan menghargai martabat manusia, membentuk hubungan dengan konseli yang bersangkutan, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Kode etik juga berlaku pada pelayanan BK berbasis TI, seperti pelayanan e-counseling, konseling via telepon, via e-mail, dan layanan BK online lainnya. Walaupun belum ada kode etik yang jelas untuk melakukan layanan BK online tetapi konselor harus tetap memegang  teguh kode etik profesi BK konvensional. Kode etik ini harus sesuai dengan undang- undang yang berlaku pada negara agar dianggap legal. ABKIN salah satu organisasi profesi konselor yang membuat kode etik profesi BK mempertimbangkan atau menyesuaikan etika layanan BK dengan kultur, karakteristik dan konstitusi bangsa Indonesia.

Dikarenakan kode etik untuk pelayanan BK online masih belum jelas maka terdapat isu-isu yang terdengar bahwa terjadi penyelewengan penyelenggaraan BK secara online. Isu – isu etik dan legal TI dalam pelayanan BK, seperti tentang pertimbangan etika untuk konsultasi secara online, kerahasiaan dan tingkat keamanan dalam pelayanan BK online, tingkat keamanan e-counseling, permasalahan bahasa dan budaya, dan kompetensi konselor dalam menggunakan TI dalam melayani konseli.

Pertimbangan etika untuk konsultasi yang dilakukan secara online kepada konseli seharusnya tetap memegang teguh dengan kode etik BK konvensional dan hanya ada beberapa bagian yang digantikan agar sesuai dengan alat teknologi yang dipergunakan untuk melakukan konsultasi tersebut. Contohnya dari isu tersebut, konsultasi yang dilakukan via telepon yang tidak menggunakan aturan yang baik ketika sedang melakukan konsultasi via telepon malah hanya seperti mengobrol biasa dengan teman sebaya atau saling curhat. Hal yang seharusnya dilakukan konselor dengan cara mengenal konseli terlebih dahulu dan dengan proses attending yang sesuai jika menggunakan telepon, dilanjutkan dengan proses pendekatan dan pengungkapan masalah dari konseli lalu beranjak ke proses pemberian saran atau bantuan. Hal ini mengunakan bahasa yang baik, sewajarnya, dan tetap sopan tetapi santai. Walaupun dianggap pendekatan yang dilakukan via online atau sebagainya itu kurang mendapatkan chemitry antara keduanya tetapi setidaknya konselor dapat memberi tindakan darurat via online tersebut dan juga pelayanan BK berbasis teknologi ini dapat menjadi layanan tambahan atau layanan awal bagi konseli yang selanjutnya dapat dilakukan dengan layanan BK konvensional.

Isu kerahasiaan dan tingkat keamanan dalam pelayanan BK online, seperti data atau masalah yang diadukan oleh individu dibaca oleh oarang lain selain konselor dan orang tersebut bukanlah orang yang berhak untuk membaca kasus konseli. Dalam konsling konvensional memang lebih aman dibandingkan dengan konseling via online sehingga data yang diberikan konseli kurang terjamin aman dan menjadi tidak rahasia lagi. Hal ini berbanding terbalik dengan azas yang harus dipegang teguh oleh konselor sehingga hal ini masih menjadi isu yang hangat pada perkembangan penggunaan TI dalam pelayanan BK di Indonesia.

Isu tingkat keamanan e-counseling sama juga dengan pelayanan BK online lainnya. E-counseling yang menggunakan internet kurang terdapat keamanannya karena dalam internet memang belum ada proteksi yang cukup kuat untuk mengamankan data.

Konseling yang dilakukan secara online terdapat banyak masalahnya dan berikut ini tipe- tipe permasalahannya, yaitu caveat merupakan dimana konselor dengan sertifikasi tidak jelas atau tidak memiliki jaminan keamanan tidak memadai, closed merupakan konselor yang sudah tidak menggunakan situsnya untuk melakukan konseling online akan tetapi masih tetap online  untuk keperluan lain dan juga tidak pernah melakukan up-dating secara berkala, gone merupakan situs-situs yang sudah kadaluarsa yang pernah dilakukan untuk proses konseling  online dan sudah ditutup. (Khaerunnisa dkk., 2011)

Isu permasalahan bahasa dan budaya ketika melakukan layanan BK online. Dikarenakan layanan BK via online tidak mengenal letak geografis dan waktu maka tidak menutup kemungkinan bahwa konselor mendapati konseli lintas budaya dan bahasa. Hal ini dapat bermasalah jika konselor tidak dapat memahami seluruhnya tentang bahasa dana budaya konseli sehingga terjadi miss-comunication antara konseli dan konselor. Alhasil pelayanan BK pun tidak menghasilkan hasil yang memuaskan bagi konseli.

Isu kompetensi konselor dalam menggunakan TI dalam melayani konseli. Konselor terkadang belum banyak menguasai TI dan permasalahan ini sudah sangat klasik terjadi, yaitu konselor yang gagap teknologi sehingga konselor tidak  dapat melakukan pelayanan

Pentingnya Kode Etik
a.       Untuk melindungi profesi sesuai dengan ketentuan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Kode etik ini akan memberikan kemungkinan profesi dapat mengatur dirinya sendiri dan melaksanakan fungsinya secara otomatis dalam kendali perundang-undangan yang berlaku.

b.      Untuk mengontrol terjadinya ketidak-sepahaman dan persengketaan dari para pelaksana. Dengan demikian kode etik dapat menjaga dan meningkatkan stabilitas internal dan eksternal profesi.

c.       Melindungi para praktisi dalam masyarakat terutama dalam kaitan kasus-kasus malapraktek (praktek-praktek yang salah). Bila kegiatan praktek sesuai dengan garis-garis etika, maka perilaku praktek dapat dianggap memenuhi standar.

d.       Melindungi klien dari praktek-praktek yang menyimpang dari orang-orang yang secara profesional yang tidak berwenang.



Hasil gambar untuk GAMBAR KONSELORHasil gambar untuk gambar TI DALAM BK 




D.   LAYANAN KONSELING BERBASIS TI
1.     Online
Kata online diartikan sebagai komputer atau perangkat yang terhubung ke jaringan internet dan siap untuk digunakan oleh komputer atau perangkat lain. Dengan kata lain, online juga mengandung arti hubungan telekomunikasi peer to peer yang membuat dua manusia terhubung. E-counseling adalah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan proses konseling secara online. Layanan ini merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh konselor dalam mengurangi masalah yang dihadapi oleh klien. Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, hal ini merupakan tantangan bagi konselor, sehingga konselor secara otomatis dituntut untuk berpartisipasi dan menguasainya, kondisi ini memungkin pelaksanaan konseling tidak hanya dilakukan tatap muka di ruang tertutup, tetapi dapat dilakukan melalui format jarak jauh.

Beberapa cara yang bisa digunakan antara lain adalah:
a.     Web Blog sebagai penyedia informasi bagi klien tentang segala hal yang dibutuhkan dalam mengembangkan dirinya.
b.     Website, sebuah situs web yang dirancang dan dibangun khusus untuk pelayanan konseling. Disini klien dapat melakukan prosedur registrasi dan mendapatkan layanan konseling yang lebih lengkap, serta didukung aplikasi lain, seperti email, chating, video conference, dan lain-lain.
c.        Social Media. Aplikasi ini dapat diakses dengan mudah dan murah melalui handphone yang terkoneksi internet. Disini dapat dimanfaatkan untuk layanan konseling baik individu maupun kelompok. Dengan memanfaatkan fasilitas aplikasi ini, dapat terjadi diskusi, sharing, berkirim pesan, chatting, dan membuat sebuah group atau forum tertentu. Konselor dapat menggunakannya secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan.
d.     Chatting/instan messanger, metode ini biasanya digunakan untuk konseling jarak jauh, berkirim pesan cepat dilengkapi dengan fasilitas video. Digunakan bagi memerlukan penanganan dengan segera namun terhalang jarak dan waktu. Contoh aplikasinya seperti mRC, Mig33, Yahoo Messanger, Skype, dan lain-lain.
e.      E-mail, surat elektronik karena media yang dianggap cepat dan terjaga privasinya untuk menyampaikan aspirasi maupun curahan hati kepada konselor. Konseling melalui email sering disebut email therapy
f.       Short Message Service (SMS), adalah media yang paling digemari karena semakin terjangkaunya perangkat yang dibutuhkan guna tersampaikannya pesan yang dingin disampaikan dari klien pada konselor maupun sebaliknya.
g.     Blackberry Messanger (BBM), aplikasi kirim pesan instan dari blackberry kini dapat digunakan di handphone dengan sistem operasi android yang kian murah dan terjangkau.
h.     Telephone, sama seperti chatting media ini juga sering digunakan sebagai media konseling secara langsung terutama dengan mulai adanya teknologi video call yang dapat menampilkan ekspresi wajah siswa dalam konseling.

     Beberapa metode diatas dapat dijalankan jika tersedia perangkat berupa HP/Telepone, smartphone, tablet, PC (Personal Computer), laptop, notebook, modem dan beberapa sarana pendukung yang lain seperti koneksi internet, camera dan headphone

2.      Offline
Penggunaan teknologi dalam layanan bimbingan dan konseling dengan mode offline (tidak tersambung dengan ineternet maupun media komunikasi jarak jauh yang lain) lebih pada pemanfaatan komputer sebagai media pengolah data serta alat bantu dalam layanan bimbingan dan konseling mislanya dengan menggunakan beberapa program komputer seperti microsoft power point, video player dan beberapa media interkatif lain dalam melayani siswa. Selain itu, beberapa program pengolah data seperti micdrosoft excel dan microsoft access serta visual basic kini tersedia terutama dalam membantu konselor dalam menampilkan layanan yang prima terhadap klien.


E.   APLIKASI TI DALAM PEMELIHARAAN DATA BK
Dalam pemeliharaan data bimbingan dan konseling, aplikasi teknologi informasi sangat mendukung dalam membantu proses pemeliharaan. Aplikasi yang dibutuhkan pada pemeliharaan data bimbingan dan konseling tentunya yang sesuai dengan kapasitas data dan stabilitas komputer beserta jaringan yang digunakan.
Ada beberapa aplikasi yang dapat membantu pemeliharaan data bimbingan dan konseling diantaranya :
1.            Hardware
2.            Hardisk Eksternal
3.            GHOST (General Hardwar Oriented System) Software
4.            Backup Data
5.            Antivirus
6.            Tape Recorder
7.            Video Recorder  
Dari beberapa aplikasi diatas dapat kita gunakan sesuai dengan kapasitas sarana dan prasarana yang dimiliki dan stabilitas komputer  guna efisiensi dalam menjalankan pemeliharaan data bimbingan dan konseling. Untuk menggunakan aplikasi tersebut, sebaiknya kita menggunakan pemeliharaan terencana (Schedule Maintenance). Karena dengan begitu, pemeliharaan akan ter-manage dengan baik dan teratur sehingga memudahkan pemeliharaan data bimbingan dan konseling.

Jenis Pemeliharaan

Aplikasi yang dibutuhkan pada pemeliharaan data bimbingan dan konseling tentunya yang sesuai dengan kapasitas data dan stabilitas komputer beserta jaringan yang digunakan. Taktik pemeliharaan adalah : Menerapkan dan meningkatkan pemeliharaan pencegahan, Meningkatkan kemampuan atau kecepatan perbaikan

Jenis pemeliharaan secara garis besar terbagi menjadi dua golongan yaitu :

1.     Pemeliharaan Tidak Terencana (Unschedule Maintenance)
Aktivitas pemeliharaan jenis ini adalah mudah untuk dipahami semua orang. Pemeliharaan jenis ini pula mengijinkan peralatan-peralatan beroperasi hingga rusak (fail). Waktu pemeliharaanya pun tidak bisa ditentukan karena aktivitas ini adalah dimana alat-alat mesin dioperasikan sampai rusak dan ketika rusak barulah tenaga kerja diserahkan untuk memperbaiki dengan cara “penggantian”.

2.     Pemeliharaan Terencana (Schedule Maintenance)
Pemeliharaan terencana adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan diawali sebuah  pengorganisasia atau rencana-rencana terlebih dahulu, dan memiliki pemikiran kemasa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Tentunya, jika melihat kedua jenis pemeliharaan diatas, Pemeliharaan Tidak Terencana lah yang mudah dilakukan karena tidak memerlukan perencanaan terlebih dahulu. Namun, dari segi keamanan dan kualitas, pemeliharaan terencanalah yang lebih memiliki esensi “memelihara” dibandingkan dengan pemeliharaan tidak terencana.


F.    APLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM ASESMEN BIMBINGAN DAN KONSELING
Adanya aplikasi teknologi informasi dalam asesmen bimbingan dan konseling turut membantu untuk mengembangkan program bimbingan dan konseling di sekolah. Asesmen itu sendiri berasal dari bahasa Inggris, Echols, J. M. dan Shadily, H. (1995: 41) assessment yaitu “1. Taksiran, penaksiran. 2. Penilaian. 3. Beban, pembebanan, pemikulan”. Fungsi asesmen adalah “untuk memperoleh informasi yang lengkap sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajaran bagi anak.” (Hurairah, U., 2009).

Temuan penelitian dari Kartadinata, S., dkk (dalam Dewi, N., Wila, 2010:17) menunjukan bahwa ‘program bimbingan dan konseling di sekolah akan efektif apabila didasarkan kepada kebutuhan nyata dan kondisi objektif peserta didik.’ Merujuk pada hasil penelitian tersebut, maka dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengembangan perangkat lunak ATP (Analisis Tugas Perkembangan) siswa yang bertujuan untuk memudahkan konselor mengembangkan program bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah.

Analisis Tugas Perkembangan atau ATP adalah “perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu mengolah ITP.” (Handayana, S., 2008). ATP bertujuan untuk memudahkan pembimbing melakukan analisis tingkat perkembangan siswa yang dibimbingnya, baik yang dibimbing secara individual maupun yang dibimbing secara kelompok. ATP inilah yang menjadi salah satu dari aplikasi teknologi informasi dalam asesmen bimbingan dan konseling. Proses analisis ini dimulai dengan penyusunan instrumen, yaitu ITP (inventori Tugas Perkembangan) yang digunakan untuk memahami tingkat perkembangan individu sekaligus mengukur tingkat perkembangan siswa baik siswa SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi (mahasiswa).

Perumusan ITP didasarkan pada hasil penelaahan terhadap tugas-tugas perkembangan peserta didik, baik SD, SMP, SMA maupun PT. Kemudian hasil atau data yang diperoleh tersebut dianalisis melalui ATP yang memang digunakan khusus untuk memberikan skor atau analisis pada hasil atau lembar jawaban ITP. Hasil pengolahan skor atau data dalam bentuk grafik akan memudahkan dlam pembacaan hasil, dengan begitu guru bimbingan dan konseling atau konselor bisa mengetahui tingkat perkembangan siswa yang dibimbingnya dengan cepat dan mudah. Selain itu informasi yang lengkap untuk merencanakan program pembelajaran bagi anak dapat diperoleh dengan mudah. Namun secara tidak langsung dengan kemudahan yang ada tersebut konselor dituntut untuk mampu mengoperasikannya dengan baik


G.    APLIKASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM LAYANAN BIMBINGAN
KELOMPOK        
   
1.     Pengertian Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok adalah salah satu bentuk layanan bimbingan konseling yang diberikan di sekolah yang merupakan bagian dari pola 17 plus bimbingan konseling yang berupa teknik-teknik yang bertujuan untuk membantu siswa yang dilakukan oleh guru bimbingan konseling/ konselor melalui kegiatan kelompok yang dapat berguna untuk mencegah berkembangnya masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh siswa menurut Pranoto (2016). 

2.     Komponen Layanan Bimbingan Kelompok

Menurut Pranoto (2016) komponen-komponen yang ada dalam layanan bimbingan kelompok diantaranya yaitu adanya pemimpin kelompok, anggota kelompok, serta dinamika dalam kelompok.

a.     Pemimpin kelompok
sebagai pengontrol proses kegiatan layanan bimbingan kelompok yang dilakukan.

b.    Anggota kelompok
merupakan sekumpulan orang yang secara sukarela mengikuti kegiatan kelompok dengan dipimpin oleh seorang konselor atau guru bimbingan konseling yang professional sertamemiliki tujuan yang sama antar anggota kelompok.

c.      Dinamika kelompok
merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok.

Topik yang dibahas yaitu tugas dan topik bebas, seperti menurut Pranoto (2016) The Group of Free/Open Free groups conducted with characteristics as follows: no preparation, direction and content of the group is left entirely to the members of the group (topics determined on agreement of members), the topics presented were not personality, required readiness of leaders to be able to observe, to set the course activities, preparing activities interlude, Task Group/Closed This group direction and content of the group's activities have been defined by the group leader. The leader of the group as a facilitator of selected topics are topics of a general nature (learning strategies in schools, the use of school facilities to support student assgnments, and so on.  All the members to concentrate on the task. The purpose of the completion of the task does not diminish the importance of the purpose of group counseling that is the development of attitudes, skills and social courage to tolerate.

(Kelompok Kelompok Bebas / Terbuka bebas dilakukan dengan karakteristik sebagai berikut: tidak ada persiapan, arahan dan isi kelompok diserahkan sepenuhnya kepada anggota kelompok (topik ditentukan berdasarkan persetujuan anggota), topik yang disajikan bukan kepribadian, diperlukan kesiapan. para pemimpin untuk dapat mengamati, mengatur kegiatan kursus, menyiapkan kegiatan jeda, Kelompok Tugas / Tertutup Arah kelompok ini dan isi kegiatan kelompok telah ditentukan oleh pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok sebagai fasilitator topik-topik tertentu adalah topik-topik yang bersifat umum (strategi pembelajaran di sekolah, penggunaan fasilitas sekolah untuk mendukung tugas siswa, dan sebagainya. Semua anggota berkonsentrasi pada tugas. Tujuan penyelesaian tugas tidak mengurangi pentingnya tujuan konseling kelompok yaitu pengembangan sikap, keterampilan, dan keberanian sosial untuk bertoleransi.)

3.     Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok

Kesuksesan bimbingan kelompok sangat dipengaruhi sejauh mana tujuan yang akan dicapai dalam layanan kelompok yang diselenggarakan. Menurut Prayitno (2004: 108), tujuan dari kegiatan bimbingan kelompok secara umum yaitu bertujuan untuk membantu siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Suasana kelompok yang berkembang dapat merupakan tempat bagi siswa untuk memanfaatkan semua informasi, tanggapan dan berbagai reaksi teman-temannya untuk kepentingan pemecahan masalah. Layanan bimbingan kelompok adalah untuk membantu siswa dalam meningkatkan hubungan kerjasama dalam kelompok serta dapat membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi serta mendorong siswa untuk dapat mengembangkan sikap yang dapat menunjang perkembangan pribadi yang lebih baik.

4.     Tahap – Tahap Layanan Bimbingan Kelompok

Tahap-tahap perkembangan kelompok dalam bimbingan melalui pendekatan kelompok sangat penting yang pada dasarnya tahapan perkembangan kegiatan bimbingan kelompok sama dengan tahapan yang ada pada layanan konseling kelompok. Prayitno (2004: 40-60) menjelaskan bahwa tahap-tahap bimbingan kelompok ada empat tahap, yaitu: a) tahap pembentukan, b) tahap perlihan, c) tahap kegiatan, d) tahap pengakhiran.

5.     Pengaplikasian dengan ICT (INFORMATION COMMUNICATIONS TECHNOLOGY)

Metode penggunaan TI dalam bimbingan dan konseling, pemanfaatan teknologi informasi dalam berbagai kesempatan layanan dan bimbingan konseling pada umumnya, metode menurut pranoto (2017) online dan offline penjelasannya adalah sebagai berikut :

1.     Onlilne
kata online diartikan sebagai komputer atau perangkat yang terhubung ke jaringan internet dam siap untuk digunakan oleh komputer atau perangkat lain, dengan kata lain,online juga mengandung arti hubungan telekomunikasi peer to peer yang membuat dua manusia terhubung, E- counseling adalah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan proses konselin secara online. Layanan ini merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh konselor dalam mengurangi masalah yang dihadapi klien kondisi ini memunginkan pelaksanaan konseling tidak hanya dilakukan tatap muka di ruang tertutup, tetapi dapat dilakukan melalui format jarak jauh. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:

a.     Web Blog
sebagai penyedia informasi bagi klien tentang segala hal yang dibutuhkan dalam mengembangkan dirinya.

b.    Website
sebuah situs web yang dirancang dan dibangun khusus untuk pelayanan konseling. Disini klien dapat melakukan prosedur registrasi dan mendapatkan layanan konseling yang lebih lengkap, serta didukung aplikasi lain seperti email, chating,video conference dan lain-lain.

c.      Social Media
Sebuah aplikasi sosial media yang sangat popular seperti facebook dan twitter. Aplikasi ini dapat diakses dengan mudah dan murah melalui handpone yang terkoneksi internet. Disini dapat dimanfaatkan untuk layanan koneling baik individu maupun kelompok. Dengan memanfaatkan aplikasi ini dapat terjadi diskusi, sharing, berkirim pesan, chatting dan membuat sebuah grup atau forum tertentu. Konselor dapat menggunakannya secara fleskibel sesuai dengan kebutuhan.

d.    Chatting/ Instan Messanger
metode ini biasanya digunakan untuk konseling jarak jauh, berkirim pesan cepat dilengkapi dengan fasilitas video. Digunakan bagi yang memerlukan penangan segera namun terhalang jarak dan waktu.

e.      E-mail
surat elektronik karena media yang diangap cepat dan terjaga privasinya untuk menyampaikan aspirasi maupun curahan hati kepada konselor. Konseling melalui email sering disebut email therapy.

f.      Short Message Service (SMS)
adalah media yang paling digemari karena semakin terjangkaunya perangkat yang dibutuhkan guna tersampaikannya pesan yang ingin disampaikan dari klien kepada konselor maupun sebaliknya.

g.     Blacberry Messanger (BBM),
aplikasi kirim pesan instan dari blacberry kini dapat digunakan di handpone dengan sistem operasi android yang kian murah dan terjangkau.

h.    Telephone
sama seperti chatting media ini juga sering digunakan sebagai media konseling secara langsung terutama dengan mulai adanya teknologi video call yang dapat menampilkan ekspresi wajah siswa dalam konseling.

Beberapa metode di atas dapat dijalankan jika tersedia perangkat berupa HP/Telepone, smartphone, tablet, PC, laptop, notebook, modem dan beberapa sarana pendukung yang lain seperti koneksi internet, camera dan handphone.

2.     Offline

Penggunaan teknologi dalam layanan bimbingan dan konseling dengan modeoffline (tidak tersambung dengan ineternet maupun media komunikasi jarak jauhyang lain) lebih pada pemanfaatan komputer sebagai media pengolah data sertaalat bantu dalam layanan bimbingan dan konseling mislanya dengan menggunakanbeberapa program komputer seperti Microsoft power point, video player dan beberapa media interkatif lain dalam melayani siswa. Selain itu, beberapa program pengolah data seperti micdrosoft excel dan microsoft access serta visual basic kini tersedia terutama dalam membantu konselor dalam menampilkan layanan yang prima terhadap peserta didik. Berbagai Produk TI dalam Layanan Bimbingan dan Konseling. Produk teknologi informasi yang umumnya dipakai dalam bimbingan dan konseling adalah berbagai program komputer yang dapat dijadikan sebagai alat bantu pelayanan. Baik yang sifatnya sebagai pengolah data maupun sebagai mediapelayanan langsung untuk peserta didik.Beberapa program yang dimaksud antara lain sebagai berikut:


a.     Media Berbasis Power Point
Media yang disusun dengan basic power point biasanya adalah materi presentasi materi layanan bimbingan dan konseling. Baik yang sifatnya ice breaking maupun yang penuh dengan materi yang harus dipahami dan dikuasai peserta didik dalam berkembang mencapai tujuan dan cita-cita pendidikannya secara optimal.
b.    Media Berbasis Microsoft Excel
Media berbasis Microsoft Excel biasanya digunakan dalam mengolah danmenganalisis data sebagai sumber informasi utama dalam memberikan layanankepada peserta didik. Banyak dari program-program komputer yang menggunakanexcel kini mendapatkan sambutan positif dari konselor sebagai pengguna. Aplikasi dengan Software Developer lain. Selain dengan perangkat program Excel, telah disusun pula program pendukung BK yang lain dengan basis visual basic (VB), C++ dan Delphi dengan orientasi sama, yaitu mempermudah konselor dalam menganalisis perkembangan siswa. Beberapa program itu ada yang buatan dalam negeri ada pula yang produk luar negeri.

6.     Contoh Pengaplikasian Media Sosial

Social media encompasses a wide range of online, word-of-mouth forums including blogs, company-sponsored discussion boards and chat rooms, consumer-to-consumer e- mail, consumer product or service ratings websites and forums, Internet discussion boards and forums, moblogs (sites containing digital audio, images, movies, or photo-graphs), and social networking websites, to name a few, Mangold (2009) , (Media sosial mencakup berbagai forum online, dari mulut ke mulut termasuk blog, papan diskusi dan ruang obrolan yang disponsori perusahaan, email konsumen ke konsumen, situs web dan forum penilaian produk atau layanan konsumen, forum dan papan diskusi internet , moblogs (situs yang berisi audio digital, gambar, film, atau grafik foto), dan situs web jejaring sosial, untuk beberapa nama, )Mangold (2009).

H.      KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TI DALAM BK
1.     Kelebihan
            a.            Pembelajaran dari mana dan kapan saja
            b.            Bertambahnya Interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru
             c.            Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas.
            d.             Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi.
             e.            Hemat biaya
  
2.     Kelemahan
a.     Konselor tidak dapat memastikan bahwa kliennya benar-benar seruis atau tidak
b.      Informasi yang diterima dan diberitakan sangat terbatas, komunikasi satu arah.
c.       Kegiatan konseling melalui teknologi informasi dapat menimbulkan jarak baik secara fisik maupun psikis diantara konselor dan  klien.
d.     Belum terdapat data-data, fakta atau informasi yang objektif dari klien, sehingga pemecahan masalah kurang jelas.
e.      Media yang digunakan kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan kliennya.
f.       Siswanya kurang menggunakan media yang disediakan kebanyakan langsung bertemu atau tatap muka





DAFTAR PUSTAKA



Khaerunnisa, Ririn, dkk. (2011). “Isu, Etik, dan Legal TI dalam Layanan Bimbingan dan Konseling”. Makalah pada Mata Kuliah Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI, Bandung.


Wibowo, Ikhsan, Muzaffar. (2011). Jenis-jenis Pemeliharaan. [online] terdapat pada http://fikrienergizer.blogspot.com/2013/04/aplikasi-teknologi-informasi-dalam.html (29 September 2018)


Hurairah, U. (2009). Sistem Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling. [online] terdapat pada http://arihdyacaesar.wordpress.com/2010/02/24/makalah-sistem-ti-dalam-bk (29 September 2018)

Mutia. (2011). Aplikasi Teknologi Informasi dalam Pemeliharaan Data Bimbingan dan Konseling. [online] terdapat pada http://mutianawidianti.wordpress.com/2011/10/26/aplikasi-teknologi-informasi-dalam-pemeliharaan-data-bimbingan-dan-konseling/ (29 September 2018)


Echols, J. M. dan Shadily, H. (1995). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Handaya, S. (2008). Inventori Tugas Perkembangan. [online]. Tersedia: http://suryah90105.blogspot.com/2008/08/inventori-tugas-perkembangan.html. [6 April 2011].
Hurairah, U. (2009). Aplikasi Teknologi Informasi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling. [online]. Tersedia: http://theboxoflifetheboxofeducation.blogspot.com/2009/11/aplikasi-teknologi-informasi-dalam.html. [3 Maret 2011].

Noviandri, W. D. (2010). “Isu Etik dan Legal Teknologi Informasi dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling”. Makalah pada PPB FIP UPI, Bandung
Pranoto, H. 2017.  Media dan Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan
           Konseling. Metro.Lemlit Press
Prayitno. 2004. Layanan Bimbingan Kelompok. Padang : Univeritas Negeri
           Padang.
Pranoto, H. 2016. Group Guidance Services With Self Regulation
           Techniques For Students.GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan,
           Psikologi, Bimbingan dan Konseling, 6(2), 180-189.
Hariyadi, S. 2011. Modul Video Sebagai Media Layanan Bimbingan dan
            Konseling. Semarang: Sigit Hariyadi.
Jurnal Layanan Bimbingan Kelompok Mahasiswa Prodi Bk Mengunakan Media
            Ict (Information And Communications Technology) Basis Social Media






Novela Azalia  

Komentar

Posting Komentar